Mengenal Sindrom Iritabilitas Usus

Irritable Bowel Syndrome (IBS) atau Sindrom Iritabilitas Usus adalah istilah yang diberikan oleh para dokter untuk keadaan ketika usus sering berulah atau mengalami gangguan fungsi tanpa ada penyakit atau alasan jelas.

Bagaimana hal itu terjadi?

Gangguan fungsi usus yang berlangsung singkat merupakan hal biasa dalam kehidupan normal. Pada beberapa orang, usus masih tetap berulah meskipun penyebab awalnya sudah lama menghilang. Kalau mereka mengalami hal seperti itu pergi ke dokter, sangat mungkin akan didiagnosa menderita sindrom ini.

Hal yang sebenarnya terjadi, usus kini menjadi lebih peka akibat penyebab awal, atau akibat reaksi psikologis yang ditimbulkan oleh penyebab awal tersebut. Usus, termasuk rectum, kini menjadi lebih mudah terangsang untuk bergerak lebih cepat dibandingkan yang seharusnya. Akibatnya menjadi berlebihan, atau dengan kata lain, otot-ototnya berkontraksi lebih kuat dari pada seharusnya. Masalah utamanya adalah sinyal dari usus ke system saraf otak dan dengan demikian juga ke pikiran, dikirim lebih sering dari yang seharusnya. Sinyal ini kemudian dicatat sebagai perasaan tidak nyaman seperti sakit perut, kembung dan segera ingin buang angina atau ingin ke belakang

Sayangnya, hal ini kemudian menjadi lingkaran setan. Terlalu memerhatikan satu bagian tubuh membuat sinyal dari bagian tubuh tersebut makin cepat menarik perhatian kita.

Kalau anda merasa sedikit gatal di punggung anda, dan kemudian perhatian anda semakin tertarik ke sana, gatal itu akan semakin terasa.

Kalau anda merasakan sebersit denyut sakit di satu bagian tubuh dan anda pusatkan perhatian anda ke sana, makaakan terasa lebih sakit. Semua rangsangan indra yang terjadi di satu bagian tubuh akan menjadi terasa lebih besar jika perhatian kita terpusat ke sana, dan sebaliknya rasa itu akan teredam atau menghilang jika perhatian kita tertuju pada hal lain.

Sensasi yang muncul dari usus lebih sulit diabaikan dibandingkan gatal atau sebersit rasa sakit karena sifatnya yang mencemaskan dan memealukan. Sayangnya, rasa malu dan cemas itu sering menjadi langkah pertama untuk memusatkan perhatian ke sana, sehingga tanpa sengaja kita telah membuat perut kita menjadi lebih peka terhadap rangsangan.

Baca juga :